Terbaru

Maiden Voyage (Interlude)

Singapura, 3 April 2017
WAKTU itu, kami baru saja naik ke kelas dua belas Madrasah Aliyah Program Keagamaan (MAPK) Nurul Jadid. Petang terakhir bulan sya'ban tengah merayap menyelimuti pesisir utara desa Tanjung Gerinting, Randu Merak, dan Randu Tatah, Paiton, Probolinggo. Mobil pikap yang membawa kami melaju perlahan menembus jalan-jalan desa. Ramadhan sudah tiba. 

 
    Satu setengah Jam kami berada di tengah laut melakukan rukyatul hilal paling konyol dalam sejarah. Hilal macam apa yang kira-kira bisa dilihat sambil terombang-ambing diantara ombak? Aku yang pegang teleskop saja cuma melihat laut, langit, laut lagi, langit lagi, kemudian air laut. Bah, teleskop nya sudah kemasukan air pula!
    Dari 27 penumpang, Hampir semuanya mabuk laut. Hilmy Firdausi yang sedari tadi lantang ingin menaklukkan lautan pun cuma diam di pojok sambil menahan mual. Kawan-kawan yang lain meledeknya. 
 
    "Saya diam bukan karena mabuk, saya sedang mengarang Ilmu 'Arudh!" Bantahnya keras.

    Tentu saja tidak ada yang percaya. Pertama, ilmu 'Arudh sudah ditemukan pada 1.300 tahun lalu, Oleh Imam Al-Khalil ibn Ahmad al-Farahidi. Kedua, Hilmi sedang mabuk. Cuma orang bodoh yang percaya orang mabuk. Meskipun cuma mabuk laut.
   Imam Khalil, atau Al-Khalil konon cemburu pada muridnya, Imam Sibawaih, alias ‘Amr bin Utsman bin Qanbar. Bagaimana tidak, ia yang membimbing dan mengajari Sibawaih, tapi justru Sibawaih yang diakui sebagai imam besar ilmu Nahwu. Lagipula, Imam Sibawaih konon tampan sekali, sang guru sampai tidak berani menatap wajahnya ketika KBM berlangsung. Imam Sibawaih Ganteng, Hilmi tidak.
    Setelah memutuskan untuk menyetop kursus nahwu untuk Sibawaih, Khalil pergi ke mekkah. Berdoa di Ka'bah. Memohon agar ia dianugerahi inspirasi ilmu yang tak dimiliki orang lain. Termasuk si Sibawaih. Pulanglah dia ke Basrah, lalu telinganya mulai tajam mendengar irama roda gerobak, lonceng, dan dentingan palu pandai besi.
    Saat merenung di tepi laut, aduh lupa di laut mana tepatnya, plak! Khalil mendengar ombak begitu berirama. Naik turun dengan ritmis. 
 
    Mustaf'ilun, Fa'ilun, Mustaf'ilun, Fa'ilun.

   Thank God, Khalil kemudian mengarang ilmu persajakan bahasa Arab, Prosodi, Syair maupun Musikologi. Semua syiir yang kita dendangkan di maulid nabi maupun di Qasidah-Qasidah populer, semuanya memakai konstruk wazan dari ilmu 'Arudh. Khalil adalah the one, and only. Dan tentu saja tidak mirip Hilmy Firdausi.
     Laut memberi kita ruang, untuk menyimpan kenangan. Ia tidak pernah terlalu sesak untuk menampung curahan hati kita yang paling dalam. Sejak kecil aku suka sekali berdiri di pagar railing kapal. Mulai di geladak kecil kapal fery KMP Citra Mandala Bahari yang melintasi selat Madura, di lambung perahu kayu dengan sahabat-sahabat MAPK, hingga berbaring disini, dek Kapal Pesiar Terbesar Kedua di Dunia, Ms. Ovation of the Seas.
     Lamunan pun berganti-ganti. Mulai dari Ciptaan Tuhan, Anak Orang, Ciptaan Tuhan, Anak Orang, Anak Orang, dan Anak Orang lagi. Oke, materi lamunan saya memang cuma dua itu. maaf
Kebetulan, di dek 15 banyak sekali beach bed berjejer dengan pemandangan ke laut lepas. Ini memang khusus area bule berjemur. Aku menjatuhkan diri di salah satu diantaranya. Berbaring menatap langit sambil memicingkan mata. Asap-asap tipis cerobong belakang Ovation sesekali melintas, tapi tidak sampai mengganggu penyetelan ulang memori-memori itu. Langit biru terbentang luas sebagai LCD, otakku proyektornya.
     Bagaimanapun, waktu itu adalah liburan yang menyenangkan. Serta hadiah bagi kami yang sudah naik kelas. Setelah berhasil melewati tes Kitab Kuning super horor berhadapan dengan KH. Maltuf Siradj. Kenangan-kenangan rukyatul hilal konyol itupun berlompatan di pikiranku.
Meski naik kelas dan lulus sekolah Kitab Kuning, nyatanya aku adalah produk gagal MAPK. Teman seangkatan di masa depan mungkin akan mendirikan pesantren ataupun jadi ulama terkemuka. Atau minimal, ilmuwan islam.
     Aku malah terdampar disini. Ribuan mil dari rumah, di perairan yang asing, di tengah-tengah orang-orang yang asing, dengan pekerjaan yang aneh, kegiatan yang aneh, dan makanan yang aneh-aneh pula. Jauh dari pengajian, istigosah, taftisy, muthola'ah, ta'lim, takriran, setor hafalan, hadiran, cuci baju dan tertidur.
     Lalu aku bangun, tahu-tahu sudah keluar kos, kuliah, diskusi, bikin makalah, berdemo, rebutan jabatan, jatuh cinta, lalu pulang dan tidur di kosan. Kemudian esoknya aku terbangun dalam kondisi siap liputan, menulis berita, memotret, wawancara, keliling metro, merekam, berdiskusi dengan tokoh-tokoh terkenal, pulang kantor, lembur, ngetik, mengedit berita, menghitung gaji, lalu duduk di pojokan Lounge Graha Pena.
     Baru beberapa hari lalu juga aku sedang duduk sendirian di Lounge Graha Pena menonton dokumenter National Geographic tentang sejarah pertumbuhan teknologi kapal pesiar. Lalu tiba-tiba aku sudah ada di kapal pesiar yang dimaksud.

     Tuhan punya cara yang asyik dan menjengkelkan.

     Angin laut membelai wajah. Gambar langit mulai memudar. Sambil terpejam, deru kapal terasa di badan. Lembut dan teratur. Di tengah kantuk, aku memasrahkan diri kemana kapal, atau takdir ini membawaku. Ke masa depan, mungkin, dengan tempat, orang, suasana, dan makanan yang lebih aneh lagi.
Zzzzzz....


     Eh, maap, mau tahu soal kapal ya, oke baca tulisan selanjutnya. Ini cuma interlud hehehe...



















































Komentar

Postingan populer dari blog ini

A full-scale invasion

Well-trained corps of naval officers.