Terbaru

Serenade of Self-Destruction

Landskap monoton bisa menenangkan pikiran. Seperti lautan. Juga bisa membuat saraf rusak-binasa.

Orang-orang arab kuno percaya, jin-jin besar menghuni padang pasir. Mereka bersembunyi di balik hembusan angin bercampur pasir. Pada para musafir yang dahaga sampai ke ubun-ubun, mereka meniupkan kata-kata yang memabukkan. Meracuni pikiran merekan dengan pemandangan semu oasis. Atau kota-kota hantu yang megah.

Itulah mungkin kenapa Rasulullah sempat gemetaran hebat saat menerima wahyu pertama. Satu, kebijakan ilahiah dan pengalaman jutaan tahun umat terdahulu di tumpek-blekkan dalam beberapa detik. Aku saja menerima pelajaran filsafat mau muntah.

Dua, sosok penampakan malaikat jibril. Dalam pikiran beliau mungkin terbersit betapa bodohnya aku berdiam di gua padang pasir, sendirian, dalam keadaan lapar-dahaga pula. Mangsa empuk bagi super-size jin padang pasir untuk menggoyang dan meracuni pikiranku.

Thanks to Karen Armstrong, akhirnya ada penjelasan ilmiah-masuk akal- diluar iman kita akan keagungan wahyu-yang menjelaskan mengapa Rasulullah begitu gemetar ketakutan. Di semenanjung arabia, siapapun yang baru bertingkah aneh selepas menempuh padang pasir, kemungkinan besar telah bertemu Jin. atau dalam bahasa arab :Majnun, gila, sinting. Reaksi orang-oranf Qurasy menyambut dakwah nabi cukup beralasan. Muhamamd baru saja melamun berhari-hari di padang pasir. Ia pasti sudah gila. Majnun.

Tidak melulu bisikan, katanya para musafir mendengar dengung-dendang yang cantik. Sayup-sayup dari kejauhan, ada yang menyanyi dengan begitu-merdu-indahnya. membuat badan yang sudah tak terkontrol sempoyongan di atas pasir. Tak mau bergerak ke arah tujuan. Suara itu memberi kenyamanan di tengah derita panas tak tertahankan. Pikiran jadi mabuk, hingga rela mati asal bisa dibelai oleh sang cantik. Meski hanya lewat suara.

Dalam kasusku, sama sekali tak butuh padang pasir.

Indonesia saat aku hidup sekarang adalah kondisi ketidakpastian kegamangan dan kebingungan. Fitnah, kebencian, logika rumit, dialog yang gagal, pemelintiran pesan2 moral dan keagamaan. Bahkan akal para mujtahid-muhakkik rasanya tak mampu untuk sekedar memetakan apa yang terjadi.

Banyak orang-orang baik. Mengulurkan tangan mereka untuk memperbaiki keadaan. Yang ada kondisi malah semakin keruh. Lalu tak butuh waktu lama hingga orang-orang baik itu terjebak dalam masalah. Orang-orang baik diam, sementara orang-orang bodoh bebas bercuap-cuap kesana kemari. Negeri seolah-olah ditarik perlahan menuju titik perpecahan yang berbahaya. Jika itu terjadi, dengan profesi seperti ini, aku bakal duduk di bangku depan.

Gagal sebagai ketua angkatan kemarin menyudahiku. Mematikan hampir semua ambisi dan keinginan untuk tampil lagi. Kondisi di luar begitu menguras energi otak dan batin. Meladeni inkompeternsi dan kependek-pikiran. Sedang tak ada satupun instrumen di tangaku yang mampu memperbaiki keadaan.

Kuputuskan ini mungkin yang dirasakan Rasulullah dalam kesendiriannya di tengah masyarakat jahiliyah. Namun ia rasakan tangannya terlampau kecil untuk membuat perubahan. Ia putuskan untuk menyepi. Entah apa tujuaannya, berasyik masyuk dan menceritakan segalanya pada tuhan yang konsepnya belum sempurna, mungkin.

Aku sendiri tetap harus menyepi. Tak boleh keluar menuju dinamika. Kalau tidak mau mendapat masalah. Atau malah memperburuk keadana. Kelalaian-kelalaian di masa lalu membuat diri ini tak punya banyak untuk ditawarkan pada dunia. Terutama pada iman dan agama.

Menyepi, terus entah sampai berapa lama. Sampai ada wahyu yang cerah-cemerlang. Sampai ada rumusan yang ampuh untuk membalik keadaan. Atau mungkin sampai semuanya terlampau lapuk untuk diselamatkan.

Dalam penyepian ini, hati tak urung digoda habis-habisan. Si cantik pendengung-dendang suara hipnotik itu sesekali terdengar. Pikiranku memang tengah dirasuki oleh semacam kecantikan yang memabukkan.

Ia mendengung, melengking, mendesah, berguman, dan sesekali tertawa kecil dalam bentuk sedemikian rupa hingga mampu merubah arah angin, menabur-natakan pasir sesuai keinginannya. Memporak porandakan pikiranku.

Si cantik itu memimpin, mengontrol, dan berkuasa atas landskap monoton dan neraka pribadi bernama kesepian ini. Suaranya kadang jatuh lembut memanja. Membelai-belai hasrat dan impian. Kadang menggeram murka dengan angin memutar tinggi. Membentak-bentak ambisi dan kebanggan.

Apapun dia, kupikir otakku sudah lebih dari separuh teracuni. Menjadikan aku manusia yang berjalan tanpa mimpi dan tujuan. Yang masih belum terang, apakah dia jin yang akan menggilakan aku, menghabisi seluruh daya hidup-dan pikirku. Ataukah petunjuk langit berisi seperangkat kebijakan ilahiah yang konon, sangat terasa sakit saat ia mendarat.

Will we be forever free as we unchain our souls
from life forever
You're just slave to the dust!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Maiden Voyage (Interlude)

A full-scale invasion

Well-trained corps of naval officers.