Mana Yang Lebih Selamat, B737 Atau A320?
![]() |
| Source : planespotter.net, wikimedia commons |
MUNGKIN beberapa orang sempat bertanya, dari 2 pesawat single
aisle yang sangat populer, Boeing 737 dan Airbus A320, mana yang lebih baik?
Mana yang lebih canggih? Mana yang lebih selamat dan aman untuk ditumpangi?
Diskusi soal dua jagoan single aisle bukanlah
hal baru di jagad aviasi. Tapi mungkin kurang populer di indonesia. Sebagaimana
kita tahu, Airbus dan Boeing terkunci dalam duel maut duopoli pasar pesawat
terbang komersil.
Dalam perang single aisle ini, Airbus, perusahaan konsorsium
eropa alias sang penantang menerjunkan ksatria andalannya, A320 family yang
berhidung pesek, berwajah tembem, tapi tinggi semampai. Semua pesawat armada
Citilink menggunakan Airbus A320 dan para hijau tembem ini menghiasi hampir semua
bandara besar di indonesia.
Sementara dari kubu petahana (bukan kampanye), tampil family B737
yang lebih senior. Lebih tua 20 tahun dari A320. Hidungnya mancung, wajahnya tirus, badannya
langsing tapi pendek. Semua armada Lion Air (Kecuali beberapa pesawat Batik)
menggunakan B737, Armada domestik Garuda Indonesia juga menggunakan B737.
B737 sejauh ini bisa dibilang sebagai jenis pesawat yang paling
laris di dunia. Lebih dari 10 ribu unit telah diproduksi sejak 1960 an. Konon, setiap
5 detik, ada 2 pesawat B737 yang take off maupun landing di suatu tempat di
seluruh dunia, sementara Airbus A320, yang lahir tahun 80 an, menempel ketat di
belakangnya dengan nilai 8 ribu unit diproduksi.
Dalam soal rekam keselamatan, menurut catatan airsafe.com, Boeing
737 memiliki rasio kecelakaan sedikit lebih rendah yakni 0,10 per satu juta
penerbangan, sementara Airbus memiliki 0,11 rasio kecelakaan per satu juta
penerbangan. Pesawat teraman sejauh ini adalah Airbus A340 yang tercatat tidak
sekalipun pernah terlibat dalam kecelakaan fatal.
Yang mana yang lebih baik? Well, ini menjadi debat kusir yang
seakan tidak pernah berhenti. Sama dengan memperdebatkan mana yang lebih cantik
Raisa atau Isyana, PS4 atau Xbox, Joox atau Spotify. Semua orang punya
preferensi masing-masing dan kadang, mirip sepakbola, keduanya membentuk dua
kubu fans club yang saling serang meski tak seganas pecinta K-Pop (Sorry, doesn’t
mean to be offensive J).
Dikatakan, bahwa A320 adalah kenyamanan, sementara B737 adalah
kekuatan. A320 seolah seperti PNS kantoran dengan gaya perlente yang formal
dengan take off dan landing yang halus serta climbing dan descending
yang ramah jantung. Sementara B737
bagaikan pemain parkour hard core yang berjiwa petualang dan suka tantangan.
A320 memang nyaman, saya sendiri merasakannya. Kabinnya lebih luas,
landing flare lebih lama dan touchdownnya lebih halus. Tapi kalau
mau take off saat hujan deras, penumpang penuh, runway pendek, mendung tebal menggelantung
di langit, angin samping (crosswind) bertiup kencang, maka saya berharap
tengah menaiki B737 yang puya reputasi fast rate climbing dan dua pasang mesin
“kantung hamster” yang powerful dan bisa diandalkan. Meskipun yah, suaranya
ribut kayak omprengan. Especially Lion.
Airbus dan Boeing juga punya madzhab berbeda dalam membangun
pesawat. Airbus lebih suka otomatisasi. Sementara
Boeing lebih suka yang laki banget alias manual. A320 adalah pesawat pertama
yang menggunakan sistem kontrol penerbangan otomatis fly by wire.
Penjelasannya agak ruwet, tapi kira-kira begini, untuk bisa
bergerak di udara, pesawat dilengkapi flight control surfaces (FCS) atau
papan-papan yang bisa digerakkan untuk mengubah laju pesawat. Dua di sayap,
namanya Aileron, buat membantu belok nengen atau ngiwo, rudder
(di belakang sirip) sama, buat belok, dan trim tab (di sayap ekor) untuk
membantu pesawat pitch up (ndangak) atau pitch down (nunduk).
Pada sistem yang lama seperti di Boeing, papan-papan FCS digerakkan
dengan tali temali yang nyambung langsung dengan tongkat Yoke dan pedalnya
pilot kayak narik-narik tali untuk menggerakkan wayang potehi. Sementara dalam
sistem fly by wire, tidak ada tali tali wayang. Pergerakan FCS diinput
oleh pilot ke komputer, lalu komputer mengubahnya menjadi sinyal elektronik yang
dikirim lewat kabel (wire) ke FCS.
Inilah mengapa tongkat kontrol pesawat Airbus dan Boeing berbeda.
Boeing memakai Yoke yang mirip trisula, sementara Airbus memakai Joystik kecil
di deket lutut. Membuat tempat duduk lebih leluasa karena tidak ada Yoke. Sehingga
dalam perbincangan para pilot, ruang didepan lutut mereka bisa ditempati meja
untuk menulis flight checklist, tempat kopi, atau buat kote’án (yang terakhir
ini cuma spekulasi).
Selain FCS, Airbus juga pioner dalam glass cockpit atau
kokpit yang memakai layar LCD. Dibandingkan dengan Boeing yang kokpitnya masih
dipenuhi berderet-deret speedometer yang ruwet, kokpit Airbus lebih rapi.
Pilot Airbus kadang mengejek rekan Boeing mereka sebagai orang udik yang belibet dengan pensil
dan kertas sementara mereka memiliki Electronic Centralized Aircraft Monitor
(ECAM) untuk semua kebutuhan. Boeing membalas dengan mengatai pilot Airbus
kumpulan orang malas yang tergantung dengan komputer, tombol-tombol plastik,
dan menerbangkan pesawat seolah main dingdong.
Konsep otomatisasi dipercaya untuk mengeliminasi faktor terbesar
dalam menyumbang kecelakaan fatal ; HUMAN EROR. Lagi, penjelasannya agak ruwet.
Tapi kira-kira begini :
Sistem fly by wire didesain sebagai anti ngantuk, ngantuk
club. Kalau pilot tiba-tiba ngantuk (which is unlikely) gara-gara
begadang atau terlalu banyak makan nasi goreng, kemudian saat dia melek-melek
ayam, pegangannya tidak stabil dan lalu tidak sengaja menarik tongkat kemudi ke
samping, pesawat biasa pasti akan langsung berguling ke samping. Which is sangat
berbahaya.
Tapi tidak dengan A320, komputer secara otomatis akan meng-cancel
perbuatan ngawur tuannya dan menghindari kecelakaan fatal. Ada Flight
Protection Envelope (FPE) yang dipasang oleh komputer pada FCS. Berisi batasan-batasan
seberapa jauh FCS bisa digerakkan. Jadi, pilot nggak bisa melanggar batasan
itu. Ndak bisa gaya-gayaan mentang-mentang mantan pilot pesawat tempur lalu mau
manuver akrobatik, pasti dibatalkan sama komputer.
Gimana kalau komputernya yang eror? Nah, Airbus menempatkan sistem
back-up berupa komputer kedua, ketiga bahkan keempat (triplex, quadruplex).
Sehingga jika komputer utama gagal, ada back upnya. Beberapa pesawat bahkan
memasang back up hidrolik manual untuk menggerakkan FCS.
Sounds great? Terlihat seperti terbang dengan A320 suangaat aman,
nyaman, terlindung dari human eror? Yap, sistem fly by wire sangat
percaya diri sampai kemudian tragedi Air Asia QZ8501 terjadi...
Bersambung...

Komentar
Posting Komentar