Terbaru

Penerbangan, Optimisme dan Pertaruhan

Kita semua berpikir bahwa hari-hari kecelakaan penerbangan fatal telah berlalu. Bahwa Air Asia QG8501 adalah yang terakhir.
Captain  James (Sully) Sullenberger berhasil mendaratkan Cactus 1549 yang kehilangan 2 mesinnya di Sungai Hudson tahun 2009. 155 penumpangnya selamat.
Qantas QF32, meledak mesinnya diatas pulau Batam, namun kesigapan kru membawa pesawat Airbus A380 tersebut mendarat dengan aman di Singapura.
Thompson TOM033, bertabrakan dengan burung saat masih dalam fase lepas landas tahun 2011. Terbang dengan satu mesin, berputar, dan mendarat kembali dengan aman. American AirlinesAA383 terbakar sesaat sebelum tinggal landas di landasan Chicago O Hare tahun 2017. Penumpang selamat, hanya 20 terluka. Southwest 1380 juga sama. Mesinnya rusak dan serpihannya menghancurkan jendela kabin. 1 orang meninggal, tapi kecepatan dan kesigapan pilot wanita Tammie Jo Shults menyelamatkan sisa penumpang.  
Ada banyak insiden. Tapi tidak fatal. Berkat latihan, keterampilan, dan disiplin tinggi pada kru dan kepatuhan penumpang terhadap aturan. Membuat penerbangan dinobatkan sebagai “Sistem transportasi paling aman”  dengan rasio 0,07 persen kematian per 1 juta mil perjalanan. Bandingkan dengan transportasi dengan sepeda motor dengan 212 kematian per 1 juta mil perjalanan (Ian Savage, Northwestern University ; 2013)
Saya baru saja mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar dan berjalan melewati lorong garbarata saat saya mengaktifkan paket data. Ratusan pesan menyerbu masuk. Satu pesan di WAG wartawan membuat darah berkesiap : Lion Air JT 610 Jatuh.
Well, mendengar berita kecelakaan penerbangan adalah satu hal. Tapi mendengarnya beberapa jam sebelum anda melakukan penerbangan? The timing couldn’t be worst.
Padahal, industri penerbangan tanah air sedang tumbuh pesat-pesatnya. Kementerian Perhubungan memprediksikan pertumbuhan fantastis 29.6 persen (The Strait Times : 2017 ) menjadi 140 juta penumpang per tahun. Daya beli meningkat, kelas menengah tumbuh pesat, persaingan antar maskapai dan pasar yang dinamis membuat harga tiket kini lebih terjangkau.  
Pemerintah, BUMN, dan operator penerbangan berlomba dengan meledaknya jumlah penumpang. Bandara-bandara baru dibuka. Kertajati, Blimbingsari, Miangas, Silangit. Yang lama pun di ekspansi, Ahmad Yani Semarang, Kulon Progo Yogjakarta.
Bandara Soekarno Hatta berpacu dengan waktu untuk membangun runway ketiga dan Terminal 4. Padahal bau cat Terminal 3 Ultimate saja masih belum hilang. Bandara tersibuk di belahan bumi selatan ini harus segera mencapai kapasitas 100 juta penumpang dan 100 pergerakan pesawat per jam. Dua landasan pacunya sudah kewalahan.    
Sektor kemananan juga semakin membaik. Tahun 2016 Federal Aviation Administration (FAA) menaikkan kategori keselamatan dari Kategori 2 menjadi kategori 1 pada tahun 2016. Sementara 2018, ICAO menyatakan bahwa kepatuhan terhadap implementasi regulasi keselamatan penerbangan  (effective implementation) telah mencapai 80,34 persen. Menurut Kemenhub, jauh diatas rata-rata dunia yang berada di angka 60 persen.
Pada tahun 2017, indonesia mencatatkan zero fatal accident dalam dunia penerbangan tanah air.  Pujian pun mengalir dalam Aviation Leadership Summit. Ada optimisme yang terus berkembang. Dikatakan bahwa penerbangan akan menjadi tulang punggu transportasi masyarakat indonesia. Kini sudah mulai terasa akan lebih murah naik pesawat dari Jakarta dalam hal waktu dan uang, daripada misalnya naik bus dan kereta api yang bisa makan waktu berjam-jam. Konektivitas antar pulau di nusantara semakin kuat dengan dukungan operasi penerbangan.
Masyarakat semakin mencintai aviasi. Komunitas-komunita pecinta Aviasi, pemburu foto-foto pesawat (planespotter) mulai menjamur. Orang-orang semakin sering selfie dengan pesawat, mengabadikan landing maupun take off. Pilot-pilot membuat channel Youtube yang kocak dan menceritakan kisah mereka di instagram story. Tak ketinggalan para ground crew maupun para taruna penerbang membuat konten-konten lucu di media sosial semisal aksi kiki challenge saat towing pesawat.
Dunia aviasi terasa begitu semarak dan berwarna. Dan lagi kita berpikir bahwa hari-hari kecelakaan fatal telah berlalu.
Tapi, benarkah...
Kita semua berdoa yang terbaik. Semoga saja Uni Eropa tidak lagi menjatuhkan sanksi tidak boleh terbang. Semoga Garuda Indonesia tetap berada di jajaran kasta tertinggi maskapai bintang 5. Semoga tidak lagi terdengar uraian-uraian negatif tentang keselamatan. Indonesia has been poor of... has been lack of... dan sebagainya.
Meskipun sangat tragis dan traumatik, industri penerbangan tumbuh semakin aman dan semakin aman sejak ditemukan oleh Wright bersaudara pada tahun 1903. Dengan setiap tragedi yang terjadi, teknologi demi teknologi terus dikembangkan untuk mengatasi segala macam tantangan penerbangan.
Tabrakan pesawat karena jarak pandang rendah diatasi dengan penemuan radar. Runway tidak terlihat, diatasi dengan Instrumen Landing System (ILS), Human eror dalam mengontrol pesawat diatasi dengan kontrol penerbangan otomatis fly by wire. Kontrol penerbangan membeku saat diudara, diatasi dengan Anti-Icing System.   
Tapi tetap saja sejauh apapun teknologi berkembang. Langit memang tak bisa diprediksi. Pun demikian, ada jutaan faktor dalam penerbangan yang tak mampu semuanya diatasi pada manusia. Hanya sebatang besi kecil (pitot tube) yang membeku, pilot Air Asia kehilangan akurasi instrumen yang mengindikasikan kecepatan pesawat.
Yah, Aviasi tidak tertebak. Sama dengan langit itu sendiri. Kadang cerah, sebentar kemudian berubah mendung. Lalu apakah kita akan berhenti terbang, melipat diri dalam selimut dan hidup selamanya dalam ketakutan? Jawabannya tidak. Manusia tidak akan pernah berhenti ber inovasi, berkreasi, dan melanjutkan untuk menaklukkan tantangan-tantangan baru. Dunia penerbangan tidak akan sejauh hari ini jika dulu Wright bersaudara memutuskan berhenti ketika gagal pada tes glider pertama mereka.  
Manusia akan terus berusaha mengatasi penderitaan, kesulitan, dan ketidakberdayaannya dengan berkreasi, berinovasi, dan berimprovisasi.
Selepas bedoa dan shalat sunnah 2 rakaat, saya pun dengan keyakinan mantap melangkah memasuki pesawat Airbus A320 yang akan terbang ke Jakarta. Pesawat yang sama dengan yang Jatuh di laut jawa pada akhir tahun 2014 lalu. Apa yang mau kita takutkan? Kita punya dua pasang mesin CFM56, 3 lapis sistem hidrolik, seperangkat sistem kontrol penerbangan tercanggih, serta kru yang berpengalaman.    
Penerbangan adalah keyakinan. Penerbangan adalah pertaruhan. Cuma mereka yang berani bertaruh, yang bisa menjelajah dan menikmati keindahan angkasa.
Mesin menderu keras, sayapun menoleh pada sepasang sayap yang sedang mengetes flight control surface miliknya.
Hai A320, mari kita terbang. Aku percaya kamu, kamu percaya pada sayapmu. God will take care of the us!
Set Thrust!        

    

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Maiden Voyage (Interlude)

A full-scale invasion

Well-trained corps of naval officers.