Terbaru

B737 MAX, Perawan Yang Dikandangkan

from : kompas tekno
Airbus dan Boeing bagaikan Alfamart dan Indomaret, atau Metro TV dan TV One, atau Kompas dan Jawa Pos. Dua raksasa yang tidak berhenti bertarung memperebutkan pasar pesawat terbang dunia. Seperti aku dan kamu, terus berdekatan, tapi ndak pernah jadian.

Salah satu medan perang mereka adalah pesawat kecil satu gang (single aisle). Iya gang ituloh tempat lewat mondar mandir di tengah yang mana kalau kita duduk di dekat gang bisa nyenggol pramugari. Alias pesawat berbadan sempit (narrow body aircraft).  
Setelah bertempur di pasar Jumbo Jet pada dekade tahun 2011 lalu, dua raksasa kini kembali membidik pasar single aisle yang terbukti lebih banyak menghasilkan uang daripada dua jumbo Airbus A380 maupun Boeing 747 dash8 yang pemesannya semakin hari semakin sedikit.
Pasar single aisle terbukti adalah yang paling penting. Order pesawat single aisle jumlahnya selalu ratusan. Sementara Airbus A380 yang pengembangannya habis ratusan miliar dolar cuma nambah sedikit-sedikit per tahun. Dalam perang ini, perusahaan konsorsium Eropa Airbus menerjunkan ksatria andalannya, si pesek dan tembem A320, menantang sang petahana berhidung mancung, Boeing 737.
Sejak saat itu, dua pesawat ini berseliweran menghiasi langit dunia. Dua-duanya memiliki daya tarik yang dengan cepat membentuk polarisasi fans club yang terdiri dari berbagai background mulai dari pilot, teknisi sampai pecinta Aviasi yang secara konstan selalu perang argumen tentang mana yang terbaik.
Seri demi seri dilempar ke pasaran. B737 NG, B737 900ER, sampai B737 MAX. Airbus tak mau kalah dengan melempar A320ceo, A320neo, sampai A321 Long Range (LR).
Semua pecinta aviasi begitu bersemangat saat  Boeing mengumumkan program seri B737 MAX yang diluncurkan tahun 2011, dan komplit tahun 2016. Desainnya baru, keren, winglet di ujung sayap dibentuk seperti sirip bercabang dua, seperti pedang skimitar. Wohoo... downward facing aerofoil! liverynya khusus, livery hijau. Mesinnya baru, CFM LEAP 1B yang lebih besar dan kuat. Serta irit bahan bakar.
Manuvernya pun lincah dan ciamik. Pada Fanborough Air Show tahun 2016, B737 MAX membuat mata terbelalak saat memperagakan steep  take off yang sangat curam bahkan hampir vertikal. Manuver yang sangat berbahaya untuk pesawat komersial. Boeing juga berkali-kali memamerkan rekaman video manuver MAX yang begitu stabil dan lincah  saat terbang rendah. Ia berguling, berputar, menikung tajam layaknya pesawat tempur.

https://www.youtube.com/watch?v=RyeqeqSNSgQ

Semua antusias. Apalagi, dalam perang single aisle ini Boeing terkesan stagnan  dari rivalnya Airbus yang rajin melempar seri-seri baru ke pasaran. Kehadiran MAX seolah menjadi penawar dahaga pada sektor produksi  seri narrow body Boeing yang sepenuhnya mengandalkan 737.
MAX Sangat menjanjikan, mesin CFM LEAP 1B nya pun terkesan tanpa masalah pada bulan-bulan awal pengetesan dibanding riwalnya Pratt And Whitney  (PT) GTF ataupun Rolls Royce (RR) Trent 1000. Flight Control (FC) nya pun kelihatan sangat bisa diandalkan. Take off hampir vertikal tapi tidak stall dan mampu kembali ke level flight dengan sempurna. Lawan yang berat  bagi seri A321 LR yang dilemparkan oleh rival  utama Boeing, Airbus.
Bisa ditebak, para pembeli MAX atau A320neo adalah maskapai-maskapai berbiaya murah alias Budget Airline alias Low Cost Carrier (LCC) whatever you name it. Dengan semakin menjamurnya bandara-bandara baru, dan rute-rute penerbangan pendek, maskapai-maskapai bajet bertumbuhan dan terkesan lebih cepat berkembang daripada maskapai konvensional full service yang semakin hari semakin terlihat seperti orang tua bongkok yang berjuang melawat naiknya harga bahan bakar dan biaya operasional.  
Lihat saja maskapai Rynair asal Irlandia, saat industri penerbangan lesu akibat serangan 9/11, Ryanair malah belanja gila-gilaan. Memesan 151 pesawat Boing 737. Dan ini belum seberapa, prediksi bahwa model bisnis LCC bisa mendatangkan untung besar benar-benar jadi nyata saat maskapai asal indonesia, Lion Air membuat mata terbelalak dengan belanja pesawat terbang dengan jumlah yang sinting, 230 unit B737 dengan nilai kontrak mencapai 22,4 miliar dolar AS. Kontrak yang menjadikan Lion menjadi kustomer terbesar kedua Boeing. Kontrak ini adalah kontrak termahal dalam nilai, dan terbanyak dalam jumlah dalam sejarah Boeing.   
Dan Lion tidak melakukannya sekali. Tapi dua kali!. Tahun 2013, mereka kembali memesan 234 unit Airbus A320 dari Airbus.  Nilai kontrak total 24 miliar dolar.

https://www.airbus.com/newsroom/press-releases/en/2013/03/lion-air-orders-234-a320-family-aircraft.html

Maka tidak heran (tapi agak kaget juga sih) saat tahun 2016 Lion Air menjadi launch customer bagi  MAX, setelah sebelumnya menjadi launch customer  bagi seri B737 900 extended range (ER). LCC seperti Lion Air adalah sahabat sekaligus sumber uang utama yang menjamin keberlangsungan riset dan inovasi pesawat single aisle.
Insiden tragis JT 610 akan jadi cobaan berat bagi Boeing. Dalam beberapa tahun terakhir, Boeing tertinggal dalam angka penjualan pesawat dari rivalnya Airbus selama 5 tahun berturut-turut. Bahkan menurut laporan CNN, hasil dari pertempuran single aisle sebenarnya mulai tampak. Pada Dubai Air Show 2017, Airbus mengamankan order 430 pesawat Aribus A320neo. Sangat jomplang dibandingkan 175 unit oder untuk B737 MAX.

https://money.cnn.com/2018/01/15/investing/airbus-boeing-orders-deliveries/index.html

Sudah selayaknya, setiap pesawat baru punya ’cobaan’ pada masa-masa awalnya beroperasi. Airbus A380 sempat diragukan keamanannya saat Qantas QF32 meledak mesinnya di udara pulau Batam. Seluruh Armada A380 yang memakan mesin RR Trent 900 dikandangkan. Namun, kali ini cobaan bagi MAX sangat berat. Kecelakaan fatal dengan kategori  hull loss.  
Secara pribadi, saya menyukai MAX dan kesengsem dengan ujung sayap pedang skimitarnya. Meskipun sejauh ini belum pernah merasakan menaikinya. Insiden memilukan JT 610 membuat semua bertanya-tanya akan kemampuan dan reliabilitasnya. Adakah dia memilik kecacatan desain (design flaws)?, atau ada kecerobohan prosedur, ataukah mungkin yang lebih buruk... human error?  
Reputasi Boeing pun dipertaruhkan. Namun, tentu saja kita tidak boleh berspekulasi.Informasi yang beredar, Boeing kini sudah memberikan pendampingan teknis. Kemenhub sudah memerintahkan agar semua armada MAX dikandangkan untuk inspeksi lebih lanjut. Yang jelas, insiden 610 akan menentukan nasib si perawan MAX.  
Selanjutnya, kita tinggal menunggu kotak hitam, dan hasil penyelidikan KNKT.

Padahal masih gress... padahal itu MAX... padahal... kok bisa?(*)
  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Maiden Voyage (Interlude)

A full-scale invasion

Well-trained corps of naval officers.