Terbaru

Jodipan

Warna-Warni Kampung Jodipan, Destinasi Wisata Anyar Kota Malang.
Dikunjungi Enam Ratus Orang Tiap Harinya.

          Hanya dua bulan, Jodipan sudah mampu mewarnai hidup banyak orang. Tukang becak , tukang ojek, tukang es, tukang parkir dadakan, tukang angkut sampah, warga kampung, sampai wali kota Malang, juga kedelapan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang punya ide merubah kawasan kumuh ini menjadi surga pariwisata.
------------------------
TAUFIQURRAHMAN

          KALAU mentari sudah merambat naik, warna-warni Jodipan akan mulai tampak jelas. Itu juga pertanda bagi warga untuk melakukan aktivitas baru mereka. Kios-kios dibuka, Para tukang parkir mulai bersiap di pinggir jalan, sedang para Ibu menggelar dagangan persis di halaman rumah mereka. Semakin siang, pengunjung akan semakin ramai berdatangan. Sehari bisa sampai 600 orang.  
          Begitu juga dengan Herlinaning, warga RT 7 Kelurahan Jodipan, Kecamatan Blimbing kota Malang ini juga bersiap melakukan tugasnya. yakni menunggui loket pengunjung. Ibu satu ini bisa duduk di mulut gang seharian mulai jam 6 hingga jam 3 sore. Sebelumnya saya biasa nganggur di rumah, katanya pada Jawa Pos.  
          Seperti apa Jodipan? Mampirlah ke kota Malang. lalu melintaslah di Jalan
Gatot Subroto. Nanti akan ketemu Jembatan Juanda yang melintang diatas sungai
brantas. Dari atas Jembatan, akan terlihat hamparan petak-petak rumah yang bersusun. Tembok, atap, bahkan lantainya dicat warna-warni.
Atau, silahkan naik kereta jurusan Malang-Blitar. Beberapa saat setelah
keluar dari Stasiun Malang Kotabaru, kereta akan melintas diatas sebuah jembatan.
Kampung Jodipan akan terlihat jelas belasan meter di bawah kaki anda. Mirip seperti Favela Santa Marta di Rio de Janiero, Brazil. Atau kota-kota Clinque Terre di tebing pantai Riviera, Italia.
          Seperti halnya Guillame Gesippe dan Isabelle Forner. Pasangan turis berkebangsaan Perancis jatuh cinta pada pandangan pertama. Yaitu saat kereta yang mereka tumpangi melintas diatas Jembatan sungai Brantas. Penasaran, merekapun turun untuk melihat lebih dekat.  
          Kenapa kalian mengecat rumah-rumah seperti ini? tanya Guillame saat bertegur sapa dengan Jawa Pos dan Salis Fitria, salah satu Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) penggagas kampung warna-warni ini.
          Salis pun memberikan penjelasan singkat Dulunya ini perumahan kumuh, kita mencoba membuatnya lebih bersih, Tuturnya dalam bahasa Inggris. Guillame mengangguk-angguk, menurutnya kampung Jodipan terlihat sangat cantik. Ia mengaku belum pernah melihat pemukiman seperti Jodipan. Mungkin ia belum tahu tentang Rio ataupun Clinque Terre.    
          Selain warga, Salis dan kedelapan kawannya juga punya kesibukan baru. Mengantar orang-orang yang ingin berwisata. Setiap hari ada saja yang datang. Wartawan, Pejabat, hingga anak-anak muda. Setelah Guillame berlalu, Salis pun mengantar Jawa Pos bertemu kawan-kawannya. 
          Mereka adalah enam perempuan, Nabila Firdausiyah, Dini Anggraeni, Wahyu Fitri Aningtyas, Elmi Rukhiatun Nur Aidah, Ira Yulia Astutik, serta dua anggota laki-laki, Ahmad Wiratman, dan Fahd Abdallah Ramadhan. Mereka menamakan diri tim Guys Public Relations (GuysPro).  
          Jika tidak sedang ada kuliah atau tugas, mereka pergi ke Jodipan yang berjarak 20 menit perjalanan dari kampus. Berkumpul di sebuah rumah  nomor 24B di muka gang RT 7. rumah itu jadi semacam basecamp. Bergantian, mereka melayani setiap tamu atau wisatawan yang datang. Kadang teman, kadang orang yang belum pernah mereka kenal. "Kemarin ada orang belanda, mampir karena melihat ada gang warna-warni," tutur Nabila, ketua tim. 
          Saat Jawa Pos mengunjungi mereka rabu (31/8) lalu, mereka sedang sibuk melakukan berbagai persiapan. karena hari ini (4/9), kampung warna-warni yang terdiri dari RT 6, 7, dan 9 kelurahan Jodipan tersebut  akan dibuka secara resmi. Wali kota, pejabat pemkot, rektor UMM, dan ribuan pengunjung dijadwalkan hadir. 
          Berkat ide mereka, dan bantuan dari Produsen cat Decofresh, Kecantikan Jodipan segera viral di dunia maya. Sampai akhir Agustus, sudah 5 ribu foto yang diposting dengan hastag #jodipan di instagram. Video youtube Jodipan sudah ditonton 2 ribu kali. walikota dan wakil wali kota Malang juga sudah beberapa kali datang ke lokasi untuk mengaguminya. Sekaligus membuat rencana untuk menjadikan Jodipan sebagai ikon destinasi wisata baru kota Malang.
          Semua bermula saat mereka pusing memikirkan tugas kelompok kuliah Public Relation (PR). Mereka harus mampu menggandeng sebuah perusahaan, lalu meng-konsep sebuah event yang mampu meningkatkan kapasitas perusahaan mitra.  
          Cerita Nabila, Jodipan adalah pilihan yang tidak mudah. Selain masyarakatnya sedikit tertutup, terkenal tidak ramah, juga punya kebiasaan membuang sampah di sungai. Mereka sebenarnya punya banyak pilihan lain "Karena mengandung pengabdian masyarakat, maka proyek ini yang disetujui dosen," katanya.
          GuysPro kemudian memasukkan proposal proyek pada PT. Indodayaguna Anekawarna. Atau Indana, Tertarik, Vice President PT. Indana kantor cabang Malang, Steven A. Sugiharto menjadwalkan presentasi.  
          Sambil malu-malu, mereka menumpahkan ide mereka di hadapan Steven dan Yudhi Sugiharto, pimpinan Indana Malang. Waktu itu ada Nabila, Elmi, Wira dan Ira. Tujuan dari pengecatan, kata Elmi, adalah untuk memicu kesadaran warga akan kebersihan."Kalau bersih, trus dicat yang bagus, warga mungkin akan sungkan buang sampah ke sungai," katanya.
          Gayung bersambut, Indana pun menggelontorkan dana CSR perusahaan kepada Nabila dan kawan-kawan. Bantuannya berupa 2 ton cat. Proyek pun segera dieksekusi. Mula-mula dengan menggerakkan warga untuk kerja bakti membersihkan tembok dan jalan-jalan sekitar kampung. Untuk mengawasi, Steven mengutus Very Fadli, staff dokumentasi Indana untuk mengawasi.
          Namun, beberapa hari setelah kerja bakti, Steven mendapatkan laporan dari Very bahwa proyek mandek. penyebabnya adalah tidak ada waktu bagi warga untuk melakukan pengecatan. Pada hari aktif, mayoritas warga berada di luar rumah untuk bekerja. Sehingga pengecatan hanya bisa dilakukan pada hari minggu. "Ada 120 kepala keluarga di Jodipan. Kalau mengecatnya tiap hari minggu kapan selesainya," tutur Steven.
          Kepalang basah, PT. Indana terpaksa mengerahkan 12 tukang untuk melakukan pengecatan. Meski dengan biaya yang membengkak. Dibantu oleh beberapa warga dan tim GuysPro. Untuk pengecatan struktur dan atap-atap yang tinggi, Steven meminta bantuan dari Batalion 464 Pasukan Khas (paskhas) TNI AU Malang.  
          Baru 30 persen pengecatan berlangsung, Jodipan sudah mulai terlihat berwarna-warni dari atas Jembatan Juanda. Pengunjung, terutama anak muda sudah mulai berdatangan untuk berfoto selfie. Melihat peluang bisnis, Steven pun meminta make-over Jodipan untuk dimaksimalkan. Proses pengecatan rampung pada pertengahan Agustus lalu. Total 3 ton cat dihabiskan.
          Steven tidak berhenti disitu. Beberapa bulan kedepan, ia merencakan untuk mengecat pula kampung di seberang Jodipan. Yaitu kampung Ksatrian. Namun, konsepnya berbeda.  Ksatrian akan jadi surganya lukisan-lukisan 3 dimensi "Kalau Jodipan kampung warna-warni, Ksatrian akan jadi kampung Tridi," ujarnya.
          Selain itu, PT. Indana berencana menjadikan Jodipan sebagai maskot produk mereka. Foto Jodipan akan terpampang di semua lini promosi. Baliho, spanduk, reklame hingga amplop surat. "Kami juga akan usahakan bangun Jembatan yang menghubungkan kedua sisi," tutur Steven.     
          Wali kota Malang, Mochammad Anton, rupanya sedikit terlambat menyadari keberadaan kampung ini. Waktu itu sekitar bulan Juli. Anton sedang menghadiri Musyawarah Nasional (Munas) Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) di Jambi. Sementara Jodipan sedang jadi pembicaraan di media massa maupun media sosial (medsos).
          Di sela-sela acara, wali Kota Bogor, Bima Arya Sugiarto mendekat dan menyodori anton sebuah foto di medsos berisikan view Kampung warna-warni Jodipan. "Wah, saya mau bikin wisata seperti ini tapi sudah keduluan sampean," Kata Anton menirukan ucapan Bima.
          Anton sontak merespon. "lho,Saya malahan belum tahu," tutur Anton.
          Dua hari setelah APEKSI, Anton baru turun ke lokasi. Sebelumnya, wakil wali kota malang, Sutiadji dan Rektor UMM, Fauzan, sudah terlebih dahulu berkunjung. Saat itulah Anton mulai berpikir untuk mengembangkan kampung Jodipan jadi destinasi wisata.   
          Di kepala Anton, ide-ide tentang kampung Jodipan sudah berlompatan. Nantinya masyarakat akan diberdayakan untuk membentuk sentra kerajinan agar kelangsungan kampung warna-warni Jodipan tetap lestari."Ada kampung mural, ada kampung batik, pokoknya yang kreatif," kata Politikus PKB ini.
          Anton juga membawa langsung kepala Dinas PU Cipta Karya Malang, J. Sulistyanto ke lokasi. Tangannya menunjuk ke berbagai arah seperti sedang melukis sebuah sketsa. Ia memerintahkan agar disiapkan pembangunan Jembatan yang menghubungkan Jodipan dan Ksatrian. Memperkuat plengsengan kali, serta membangun taman di sepanjang bantaran. 
          Anton berambisi untuk memperkenalkan ikon baru kota Malang ini ke para sejawatnya di APEKSI. "2017 insyaallah wali kota se-Indonesia akan saya undang ke sini," katanya.
          Meskipun sudah cantik, semua orang harus sabar sebelum dua kampung ini jadi jujukan wisata. Sarana dan Prasarana harus dibangun. Kehidupan sosial warga juga harus disiapkan. Contoh adalah masalah kecil seperti karcis masuk.      
          Soni Parin sebagai ketua RW tetap keukeuh untuk melakukan penarikan terhadap pengunjung. Setelah adanya kampung warna-warni, Parin punya beban tambahan berupa pengangkutan sampah. Padahal, pemkot tidak pernah membantu mereka. "Lah, saya bayar tukang sampah pakai apa?" tanyanya.
          Selain sampah, kehidupan warga yang tenang juga harus siap terusik. Parin mengaku jarang bisa tidur siang karena banyaknya pengunjung yang berseliweran lewat di depan rumahnya. Sejatinya pengunjung sudah dibatasi hingga sehabis maghrib. Namun, ada saja yang berkunjung hingga malam hari.
          Warga juga semakin awas terhadap orang-orang yang berkunjung ke pemukiman mereka. Slamin Effendi, pernah hampir dipentung warga karena dikira maling. Padahal, sejak Jodipan berwarna-warni, ia menjadi tukang angkut sampah dadakan. "Tiap malam naik turun tiga sampai empat kali," tutur warga RT  7 ini.
          Jembatan juga jadi salah satu keberatan warga. Parin memberanikan diri menyampaikan langsung pada abah Anton-sapaan akrab wali kota Malang-saat ia berkunjung untuk kedua kalinya ke Jodipan Senin (29/8). Parin menilai, budaya antara dua kampung sangat berbeda. "Saya khawatir kampung sini akan ketularan hal-hal yang tidak baik," keluhnya.
          Namun, nampaknya Anton tidak akan bergeming. Ia sudah mantap untuk menjadikan dua kampung itu sebagai aset kota Malang yang mampu mengundang wisatawan. Kepada parin, ia menjanjikan akan memikirkan solusi terbaik. Namun, Jembatan tetap harus dibangun. 
          Sebelum meninggalkan kampung, Orang nomor 1 di kota Malang tersebut berdiri tegak, lalu melayangkan pandangannya ke seberang sungai. Merajut benang-benang imaji tentang Jembatan yang akan menghubungkan kedua kampung.  Mungkin juga menghubungkan kota Malang dengan masa depan barunya.(*)    
           
         



         


         












Komentar

Postingan populer dari blog ini

Maiden Voyage (Interlude)

A full-scale invasion

Well-trained corps of naval officers.