IBU guru maju ke depan kelas, membacakan sebuah selembar surat yang ditujukan pada sekolah saya, SDN Dabasah 05 Bondowoso tahun 2005 lalu. Sebelah kanan bibirnya terangkat dengan air muka mencemooh huruf-huruf mesin tik yang tak lurus alineanya itu. Yang secara kurang ajar pula, telah mengganggu jam pelajarannya.
Isinya adalah himbauan kepada pihak sekolah agar jadwal les, kegiatan ekskul pramuka, serta tutorial tambahan ujian nasional, tidak berbarengan dengan Madrasah Diniyah.
“Siapa disini yang sekolah di Ali hikmat?” katanya pada kami.
Saya tidak menjawab. Malah merutuk dalam hati. Namanya Al Hikmah, bu guru!
Karena tak ada yang menjawab, bu Guru pun menganggap surat tersebut tak perlu digubris. Satu-satunya siswa yang “nyambi” sekolah Diniyah di kelas itu cuma saya. Di kelas lain mungkin cuma beberapa. Tapi surat disebar ke semua kelas oleh komite sekolah.
Satu-satunya santri madrasah Diniyah adalah saya. Madrasahnya milik ayah saya. Ustadzahnya ibu saya. Letaknya di depan rumah saya. Sejak saya kelas 4 jumlah santrinya terus menurun karena sekolah berlomba-lomba untuk membuat berbagai ekskul, basket, voli, kursus menari, musik, hingga pramuka,
Menginjak kelas enam, madrasah semakin sepi. Sekolah-sekolah begitu ketakutan terhadap standar NEM kelulusan yang semakin tahun semakin tinggi. Tutorial tambahan untuk ujian nasional pun dilaksanakan secara maraton. Siang sampai malam.
Saya pun menghadapi kekhawatiran tidak lulus ujian. Tapi tak sampai hati meninggalkan Madrasah Diniyah. Tidak jarang dalam satu kelas sore, hanya tinggal saya dan ayah dalam satu kelas. Tidak cukup kecanggungan selama ini saat saya diolok-olok teman sekelas karena selalu mendapat nilai tinggi . Pantas, anaknya sendiri!
Tetapi ayah tetap mengajar seperti biasa. Fiqh, Tauhid, Aqidah dan Akhlak, sedikit mufrodat-mufrodat bahasa arab. Lalu diakhiri dengan membaca Alqurán sambil’mempelajari ilmu Tajwid. Idgham, Ikhfa, Iqlab, Idhar, Pelajaran-pelajaran aneh yang bersumber dari antah berantah. Tak berguna di dunia nyata, tak bisa meningkatkan kompetensi menghadapi ujian nasional.
Gaji ayah saya dua ratus lima puluh ribu. Diberikan oleh Kantor Kemenag Kabupaten Bondowoso setiap minggu. Untuk meningkatkan semangat anak didik, Ayah menjanjikan siapapun yang berhasil menghafalkan surat sabbihis atau Al-Á’la dalam seminggu, akan diberi uang seribu rupiah.
Pada minggu yang ditentukan, hanya ada saya dan ayah di kelas. Sayapun membacakan Sabbihis sampai selesai. Tanpa satu ayat pun yang lewat. Ayah pun tersenyum dan memberikan uang seribu pada saya.
Tapi Madrasah Diniyah memang tidak keren. Sangat tidak keren. Jauh lebih menyenangkan ikut ekskul basket. Sekali melompat, ratusan gadis bertepuk tangan meneriakkan namamu. Atau ekskul musik menyanyikan sejuta puisi cinta nan indah, atau menari dengan kostum kelap-kelip bak ratu dari negeri dongeng, atau pramuka dengan tongkat dan baret yang gagah bak tentara. Jauh lebih menyenangkan daripada memelototi teks-teks arab yang kita bahkan tidak tahu apa gunanya.
Kadang kalau santri sedang ramai, saya menyelinap dari rumah berlari menuju sekolah. Satu ingin ikut ekskul pramuka, dua karena soerang kawan sekelas tampak begitu cantik akhir-akhir ini.
Saya begitu bangga saat menjadi kapten kelompok Barung Hijau. Memegang tongkat, tali air berpilin di bahu kanan dengan peluit komando. Melakukan simulasi penjelajahan alam, belajar kode morse, membaca sandi rumput, melambai-melambaikan Semaphore, dan membuat simpul-simpul tali untuk tandu, jembatan, dan tenda. Selalu merinding saat menyanyikan Himne dan Jayalah Pramuka. Saat memasang baret, memimpin barisan dan merasakan bahwa anak gadis di seberang lapangan memperhatikan saya.
Dalam sebuah latihan berlari, seorang kawan tak sengaja melibas kaki saya, saya jatuh bertelungkup, lengan kanan dinyatakan cacat seumur hidup. Mulai hari itu saya berjanji untuk tidak pernah, pernah melanggar perintah ibu untuk pergi ngaji.
Madrasah Diniyah tidak keren. Sangat tidak keren. Ia sekedar tambahan dalam Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Sekarang, setelah sembilan belas tahun sejak bu guru membacakan surat itu, Madrasah Diniyah muncul lagi ke tengah-tengah publik sebagai anak aneh (freak) yang menjadi batu sandungan progres pendidikan nasional. Dia mengirimkan distress call pada bangsa yang ia didik dengan nilai-nilai agama, bahkan sejak sebelum ia merdeka.
Mendadak bermunculan para pengamat dan pakar yang mencoba menerka-nerka sistem alien bernama Diniyah. Seorang Magister Ilmu Politik UI bilang protes para pengelola Diniyah serupa dengan para supir taksi konvensional yang memprotes taksi online. Garis miring, entitas kuno dan terbelakang, yang berusaha memprotes modernitas. Entitas yang mengap-mengap, bersiap mampus digilas kemajuan zaman.
Di Amerika tidak ada Diniyah, Amerika tetap maju. Di Jepang tidak ada Diniyah, Jepang tetap canggih. Di China tidak ada Diniyah, China tetap sugih.
Oh ya, Diniyah mungkin saja semacam bakat dan minat. Siswa harus diberi kebebasan apakah mau memilih Diniyah atau Basketball, Diniyah atawa Tari Balet, Diniyah atawa Marching Band, Diniyah atawa Voli dan Futsal, Diniyah atawa Kursus Piano, Diniyah atawa Ice Skating, Diniyah atawa Koreografi, Diniyah atawa Break Dance.
Kini, setelah 72 tahun merdeka, orang-orang di negeri ini tetap akan terbelalak dan bertanya. “Diniyah? Kursus macam apa itu?”
Benar-benar tidak keren.
Jakarta, 12 Agustus 2017
Komentar
Posting Komentar