Salah
satu yang paling rawan adalah lalulintas bus yang baru saja keluar.
Pasalnya, tak hanya jadi akses keluar, jalan itu ternyata juga
menjadi ‘terminal baru’ bus-bus itu. Usai
melintasi pintu terminal, rata-rata bus itu berhenti untuk mencari
tambahan penumpang.
Padahal,
intensitas bus yang keluar di jalur ini cukup padat. Tak hanya pada
jam sibuk, pada saat jam-jam sepi kondisinya juga tak jauh berbeda.
Hal ini dipicu banyaknya penumpang yang ternyata juga ‘ngetem’ di
sana menunggu bus jemputan.
Kabag
Ops Satpol PP Pemkab Sidoarjo Ridho Prasetyo senada. Dia
mengungkapkan, sejatinya korps penegak perda itu sudah berinisiatif
melakukan penertiban secara rutin. ’’Hampir setiap hari kami
menempatkan petugas sebagai langkah preventif,’’ tutur Ridho.
Keterbatasan personel
akhirnya berujung pada aksi kucing-kucingan antara petugas dan
pelanggar ketertiban.
Jawa
Pos sempat
melakukan pantauan. Pada jam padat (sekitar pukul 16.00.18.00), tiap
tiga menit jumlah bus yang keluar dari terminal itu berkisar antara
15-18 armada. Artinya,
jika dirata-rata per menit minimal ada lima bus yang keluar.
Dari
jumlah itu, mayoritas tidak langsung berangkat, melainkan berhenti
sejenak jika ada penumpang. Rata-rata, bus-bus itu berhenti di atas
10 detik. Bahkan, jika banyak penumpang, satu bus bisa ngetem lebih
dari 30 detik. Itupun, banyak di antaranya yang nekad mandeg di
tengah jalan.
Yang
juga membuat jalur itu makin semrawut adalah luberan calon penumpang
maupun kendaraan pengantar yang parkir di sana. Maklum saja, kawasan
ini memang menjadi salah satu titik favorit penumpang untuk naik bus
(terutama penumpang dari sisi timur terminal). Sebab, mereka tak
perlu susah-susah masuk ke area terminal.
Tak
cukup, kesemrawutan diperparah dengan deretan PKL yang berjejer di
jalur sisi kiri jalan. Para pedagang ini berderet sejak depan kawasan
ruko sebelah pintu keluar, hingga arah utara menjelang Bundaran Waru.
Dari pantauan kemarin, total ada delapan PKL yang kedapatan
berdagang.
Namun,
pada hari-hari biasa, jumlah pedagang yang beroperasi di sana bisa
mencapai 16 PKL. Bahkan, sejumlah pedagang nekad mendirikan tenda
hingga memakan jalan. Keberadaan para pedagang ini tidak permanen.
Maklum, kawasan ini kerap ditertibkan oleh Satpol PP Sidoarjo. ”Kalau
pas ditertibkan atau dalam pengawasan, kami harus pergi,” kata
salah satu pedagang di sana.
Hanya
saja, penertiban jalur ini terbilang hangat-hangat tahi ayam. Maklum,
selain jarang ditertibkan, kawasan ini juga jarang diawasi oleh
Komentar
Posting Komentar