Terbaru

Jalur Sutera Sepanjang Kali Gembong

PASAR ATUM, IBUKOTA TIOGHOA INDONESIA TIMUR
Ingatan kolektif tentang etnis china yang bermigrasi ke indonesia kira-kira tergambar sebagai pak tua bermata sipit bertopi caping dengan memanggul pikulan. Berjalan ke rumah-rumah penduduk untuk menawarkan dagangannya. Di Surabaya, mereka adalah nenek moyang para pedagang di Pasar Atum.

PUKUL 10 pagi di Pasar Atum, Bongkaran, Pabean Cantikan, Kota Surabaya. Waktunya memulai aktivitas. Rolling door dibuka, dagangan ditata. Bambang duduk di tengah toko tekstil "Varity" di gedung tahap 1 lantai satu. Tangan kanannya mengaduk kopi jahe yang mengepulkan asap. Di depannya, tersaji koran Jawa Pos.
Cerita tentang pak tua yang memanggul pikulan bukan isapan jempol. Bambang merupakan generasi kedua usaha tekstil milik keluarganya. Dahulu, nenek moyangnya datang dari daratan China bermodalkan pikulan berisi gulungan-gulungan kain. Mereka kemudian berkeliling menjualnya ke rumah-rumah penduduk sepanjang Jalan Kembang Jepun, Dukuh, Gembong, hingga Kapasan. Ramai bagaikan jalur sutera di asia tengah
Sistem penjualannya pun unik, kain dibagi-bagikan pada pembeli, pembayarannya dilakukan dengan cara mencicil. "Cerita orang tua dulu, kayak gitu namanya mendreng," kata Bambang kepada Jawa Pos yang mengunjungi tokonya.
Dengan meningkatnya kepercayaan warga sekitar, para pedagang pikulan ini pun mulai mendirikan lapak-lapak di pinggir kali Gembong. Deretan lapak memanjang mulai Jalan Bunguran hingga Gembong. Inilah cikal bakal pasar atum yang pertama. Ayah Bambang adalah salah satu pemilik stan penjual kain "Sekitar tahun 1947, sudah banyak lapak dari bedak kayu dan seng, itu Pasar Atum yang pertama," katanya.
Menurut Bambang, saat ini hampir tidak bisa ditemukan lagi cina totok seperti ayahnya. Generasi sudah berganti. Bahasa Mandarin dan Hokian sudah jarang digunakan. Meski dalam beberapa dialog jual beli, satuan harga masih memakai bahasa Hokian. Misalnya saat Hasan Basri, salah seorang pembeli, masuk ke toko bambang.
"Suk, kain buat baju."
"Ada tu, di pojok,"
"Berapa harga?"
"Lak ban, lah."kata Bambang.
Lak ban dalam bahasa Hokkian berarti enam puluh ribu rupiah. Bahasa Hokkian sangat jarang digunakan. Saat ini, kata Bambang, hampir rata-rata pedagang maupun pembeli Tionghoa memakai bahasa jawa suroboyoan.
******
Warna-warna merah mulai menghiasi seluruh sudut pasar ini sebulan terakhir. Lampion-lampion merah digantung di atap. Gulungan dan stiker merah bertuliskan selamat tahun baru ditempel di dinding-dinding. Kanji-kanji bertuliskan Fuk (Hok/Hoki ; Keberuntungan) bertebaran dimana-mana. Ada patung ayam raksasa di tengah gedung tahap satu. Seluruh keluarga besar pasar atum bersukacita menyambut tahun baru ayam api atau ayam emas (jin mu ji)
"Ini tahun ayam api, rejeki sedang bagus, asal mau kerja, jangan demo terus," kata Vincent Kenneth sambil tertawa. Pria berkacamata ini adalah pemilik dari Supermarket Hartani di lantai 1 gedung tahap 5 Pasar Atum. Ia bersama Soenarman, Junaedi, dan Bambang sedang menunggu pesanan Ronde di Restauran 369 di lantai 2 gedung tahap 5.
Kata Vincent, mengkonsumsi ronde berarti siap untuk menyambut perayaan tahun baru imlek. Penganan ini laris di Pasar Atum menjelang imlek sampai nanti cap go meh. Setelah beberapa menit menanti, mangkuk putih berisikan kuah air jahe panas dan dua bola tepung berisikan kacang merah tersaji dengan asap mengepul. Keempat pedagang Pasar Atum ini tak membuang waktu untuk menyeruput air jahe dan menyantap bola kacang tersebut. "Ronde imlek, bagus untuk menambah semangat kerja," kata Vincent pada Jawa Pos.
Sejak dulu, Pasar Atum adalah pecinan terbesar di indonesia timur. Ingatan ini disimpan baik-baik oleh keempat orang ini. Mesekipun saat ini sudah tak seramai dulu. Menurut Soenarwan, saking ramainya, kalau ada satu stan yang kosong, tidak sampai beberapa hari sudah terisi lagi. Sementara Mall-nya adalah sebenar-benar pusat perbelanjaan. Dimana orang datang untuk berbelanja. "Kalau di mall lain, orang datang cumak liak-liak (melihat-lihat,Red) doang," timpal Vincent.

********
Ronde bukan satu-satunya penanda kemeriahan imlek. Beberapa toko khusus menyiapkan diri sebagai sentra belanja persiapan perayaan tahun baru. Cara menemukannya gampang, carilah warna merah dan kerumunan pembeli. Tepat di depan toko tekstil "Varity" adalah toko milik Siggih. Namanya toko Shin Shen. Sejak pagi, Shin Shen sudah ramai diserbu pembeli.
"Suk, onok petasan elektrik yang kecil?" tanya salah seorang pembeli.
"Kecil ada, 50 (ribu,Red)," jawab Singgih
"Kurang boleh suk?" tawarnya.
"Oh, ndak isa," kata Singgih lagi.
Singgih mulai merintis usahanya menjual aksesoris Imlek dan penak-pernik keagamaan sejak tahun 1999 hingga sekarang. Hanya kebijakan mantan presiden Abdurrahman Wahid menjadikan Imlek sebagai libur nasional yang membuat Singgih berani berjualan. Sebelumnya, aksesoris tersebut dilarang. "Makanya kami semua disini berterima kasih pada Gus Dur," katanya.
Ada banyak pernak-pernik yang dijual. Mulai Angpo berbagai ukuran dan hiasan, lampion, juga dalam berbagai ukuran dan hiasan. Patung ikan dan ayam gantung, kucing keberuntungan yang melambai-lambai sepanjang waktu. Ada juga stiker ayam, kong hu cu, dan anak laki-laki dan perempuan yang melakukan pay-pay (gestur tangan mengucapkan selamat). Dengan tangan kanan terkepal, diselimuti oleh tangan kiri. "Jadi keburukan menutupi kebaikan," kata Singgih.
Toko Sejahtera di lantai 1 tahap 3 juga tak kalah meriah. Malahan, rak-raknya sudah kebanyakan kosong melompong. Habis diborong pelanggan. Salim sedang duduk di kursi tinggi mengawasi pembeli yang menyemut di tokonya. Tan Robby, warga Dukuh Kupang, mendekat ke deretan rak berisi amplop angpao.
"Gambar ayam ada?" tanya Robby
"Habis kayaknya Suk, coba cari disitu," jawab Salim.
Robby tampak kecewa. Namun kakek ini masih berusaha mencari-cari amplop bergambar atau bertema ayam. Amplop, stiker, gulungan, atau poster apapun yang menyangkut ayam biasanya cepat sekali habis. Robby sesekali mengambil beberapa angpao dengan tulisan dan gambar yang bagus. Beruntung, satu lembar angpao bergambar ayam berhasil didapatnya. Tinggal satu itu saja.
"Xin nian kwai le'," kata Robby membacakan kanji yang tertulis di amplop merah tersebut pada Jawa Pos. Artinya kira-kira selamat tahun baru ayam. Semoga berkelimpahan kebahagiaan dan rejeki. Beberapa kartu pilihan Robby bertuliskan Cheng gang kwai le', artinya kira-kira semoga sehat dan bahagia. Satu lagi adalah Wan Tse Ru Ih. "Artinya kalau kita punya urusan sangat sulit, semoga segera terselesaikan," kata Robby.
Sama seperti Robby, Nadia Stefani juga sedang sibuk memutari toko sejahtera. Ia mencocokkan gambar di smartphone miliknya dengan beberapa barang di toko itu. Rupanya Nadia sedang berusaha mencari komponen yang cocok untuk dekorasi rumahnya.
Nadia beralih pada Salim, koko berkaos hitam ini adalah langganannya setiap tahun. Ia menanyakan lampion terbang. Salim mengangguk menyebut harganya sekitar 30 ribu rupiah. Nadia menuju tempat yang ditunjukkan dan memborong dua buah lampion. Lalu mencoba menawar dengan harga 50 ribu untuk dua lampion
"Goban ya ko, ya, biar Hoki ya," tawar Nadia. Salim pun mengiyakan.
Pasar Atum tidak hanya milik warga Surabaya. Nadia sendiri tinggal di Sidoarjo dengan suami dan kedua orang anaknya. Malam tanggal 27 Januari nanti. Nadia berencana membuat pesta kecil-kecilan. "Aku mau buat pohon uang juga di sini," kata Nadia sambil menujukkan gambar halaman belakang rumahnya.
Tahun baru, selain lampion, stiker, angpao, dan baju paru. Tidak lengkap rasanya kalau dirayakan tanpa jajanan khas. Toko milik pasangan Junaidi dan Vera di lantai 1 tahap satu adalah rajananya panganan khas imlek. Vera duduk di kursi tinggi di tengah toko, dikepung oleh tumpukan cemilan, kue basah, dan kering, manisan hingga buah. Suaminya, Junaidi berkeliling melayani pelanggan.
Yang paling banyak ditemukan adalah susunan buah dalam kemasan lingkaran dipecah delapan. Masing-masing diisi buah-buahan sejenis plum, peach, dan cherry. Pria yang akrab dipanggil Edi ini juga tidak hafal nama buah di masing-masing pecahan. "Pokoknya namanya Pak Chen Ko, Pak itu delapan," katanya.
Selain Pak Chen Kwo, Kue Keranjang berwarna coklat juga adalah penanda Imlek. Bentuknya coklat dan kenyal. Menurut Junaidi, kue ini dibawa oleh pedagang-pedagang dari Medan yang pergi ke Jawa. Resepnya kemudian diwariskan turun-temurun. "Pokoknya semua aneka manisan imlek, tidak hafal satu persatu," kata Edi.
Pedagang tidak sendiri dalam menjaga tradisi Imlek ini, menejemen juga melakukan usaha-usaha untuk memeprkuat kebudayaan Tionghoa. Yunis Sutandio, Vice Manager PT. Prosam, pengelola Pasar Atum menjelaskan bahwa sejak 10 tahun lalu, digelar pertunjukan Barongsai setiap weekend menjelang Imlek.
Para tim Barongsai, setelah beraksi di halaman akan masuk mengunjungi stan-stan milik pedagang. Para pedagang pun sudah siap untuk memberikan angpao. Menurut kepercayaan, stan yang dikunjungi Barongsai akan ketiban berkah. "Tapi tentunya tidak semua stan bisa kami kunjungi, tim Barongsainya terbatas," kata Yunis.
Kembali ke Shin Shen, menjelang pukul 16.00, satu jam sebelum tutup. Toko masih ramai. Jawa Pos sudah seharian mengamati toko dan menghabiskan waktu mengeja bahasa mandarin. Singgih mencabut salah satu stiker ayam. Disitu ada tulisan kanji berbunyi Sung Fuk. Artinya kira-kira berilah rezeki dan kemurahan. Lantas memberikannya pada Jawa Pos "Gratis," kata Singgih.
"Pulang dulu ya suk, bo ciak,"
"Lho disini sudah ciak semua," kata Singgih sambil tertawa. Seseorang yang lewat dekat toko menggoda dengan menyebutkan kata mirip bahasa mandarin.
"mer con," katanya. mercon artinya petasan. Tentu saja ini bukan bahasa mandarin ataupun hokian.(tau)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Maiden Voyage (Interlude)

A full-scale invasion

Well-trained corps of naval officers.