Terbaru

Telolet Pun Tak Sanggup

Repro : Jawa Pos
LEGENDA BUS KOTA SI MERCY TUA

Kota Metropolis boleh maju pesat. Namun hingga hari ini masih banyak bus uzur yang berkeliaran di jalan-jalan. Selain jauh dari kata nyaman, bus-bus tersebut juga menyumbangkan polusi ke udara.

WARGA Surabaya pasti mengenali tipikal bus kota milik Perusahaan Umum (Perum) DAMRI yang satu ini. Penampakannya kotak. Kontur bodinya kaku. Dengan bingkai kembar di kaca depan. Lampunya kotak dengan sein kecil di kanan kiri. Dan ciri yang paling khas adalah kursi plastik berwarna biru. Keras tanpa busa. Sama seperti kursi di ruang runggu halte bus.
Emblem berupa bintang tiga dalam lingkaran melekat di muka bus. Simbol dari pabrikan otomotif terkenal dari Jerman, Mercedes-Benz. Bus ini adalah seri O 325 yang dikembangkan oleh Mercedes pada tahun 1968. jika masih beroperasi hingga hari ini, berarti bus ini sudah berusia 48 tahun. Separuh dari usia manusia.
Di dalam bus ini drama kehidupan terjadi. Simbol dari kepasrahan masyarakat menerima standar terendah dari pelayanan bus. Saat melaju, hampir semua bagian bus terus bergetar sepanjang perjalanan. Kaca jendela, pintu yang tidak rapat, atap triplek, sampai kursi penumpang. Kalau kebetulan sedang melintasi persimpangan rel, speedtrap, lubang, apalagi dalam kondisi penumpang kosong, maka getaran terasa semakin keras. Suaranya berpadu dengan suspensi roda yang berkeriet seperti kekurangan minyak. Seperti yang turut dirasakan Jawa Pos saat menaikinya kemarin (20/12).
Interior bus ini juga khas. Dinding-dinding besinya kadang tanpa penutup karet. Dilapisi dengan cat besi biasanya berwarna biru. Kalau kita mengeruk sedikit saja dengan kuku, serpihan-serpihan karat akan berjatuhan ke lantai bus.
Aspal di bawah bus bisa diintip lewat lubang-lubang kecil di lantai bus. Mengalir seperti air sungai. Atapnya ditutup triplek yang biasa dibuat papan whiteboard. Untuk ventilasi udara, Biasanya adalah lubang palka yang sulit ditutup ketika hujan. Ada juga beberapa lampu yang casingnya sudah hilang. Meninggalkan kabel dan bolham kecil.
Namun, masyarakat yang menggunakan jasa bus jaman susah ini seakan sudah terbiasa. Mereka bisa tidur tenang dengan menyandarkan kepala ke kursi yang atos. Tetap terlelap meski kepala mereka dipermainkan ke kiri dan ke kanan. Sebagai pelengkap paduan suara yang dibuat oleh bodi dan deru mesin, ada suara kecrekan dan suara sumbang pengamen, serta anak kecil yang menangis kepanasan. Untuk hidung, ada bonus asap kendaraan dari luar, dan asap rokok di dalam.
Di Surabaya, bus-bus ini kebanyakan ditugaskan untuk melayani rute Tanjung Perak-Bungurasih via tol. Kodenya P4. Dulunya pada tahun 2000 an, Mercedes O 325 hampir menguasai seluruh rute bis kota di Surabaya. Sekarang DAMRI memilih untuk mengoperasikan bus yang lebih baru di dalam kota. Tapi O 325 tetap dioperasikan khusus untuk rute ini. Sebagian besar yang menggunakan bus ini tentu masyarakat kelas menengah ke bawah. Dengan tujuan rata-rata ke pulau garam, Madura.
Namun, beberapa bus nampaknya sudah melalui modifikasi. Seperti yang dinaiki Jawa Pos. Mercedes O325 yang satu ini kursinya sudah busa. Meski kulit pembungkusnya sudah robek di sana-sini dan beberapa per-nya mengintip keluar. Lantainya juga sudah dilapisi baru.
Sang kernet, kemudian diketahui bernama Mukti Wibowo mengatakan bus ini sudah tidak pakai kursi yang atos lagi."Kalau pakai kursi itu, kaki bisa sakit. Jarak antar kursinya sempit," katanya.
Umsiyah sedang pulang dari liburan di Jombang menuju rumahnya di Socah, Bangkalan. Duduk di deretan kanan tengah. Ibu ini hanya seorang diri membawa empat anaknya. Tiga diantaranya masih kecil. Yang nomer tiga, sedari tadi gelisah. Ia sedang tidak enak badan.
Umsiyah berkali-kali mengoleskan minyak kayu putih ke perut bocah 4 tahun tersebut. Si anak beberapa kali mau muntah namun gagal. Sambil terhuyung-huyung di koridor tengah bus, ia hanya meludah ke lantai. Ludahnya jatuh diantara serpihan kulit telur puyuh yang berserakan.
Beruntung, seorang penumpang di kursi belakang menyodorkan kresek hitam. Di bus-bus ekonomi lawas, biasanya disediakan kantong-kantong plastik yang digantung di pegangan atap. Di bus ini kebetulan tidak ada. "Biasanya dia tidak mabuk, malahan yang ini yang sering mabuk," kata Umsiyah sambil menujuk anaknya yang kedua.
Menurut Umsiyah, bus seperti ini memang kurang nyaman. Terutama bagi anak kecil. Hanya saja ia sudah terbiasa. Yang ia keluhkan cuma temperatur. Terutama saat bus keluar dari pintu tol Dupak dan masuk ke tengah-tengah kemacetan di Jalan Raya Demak. "Nggak ada ac-nya," keluhnya.
Seorang kakek bernama Ishaq juga rupanya tengah kepanasan. Dua kancing baju bagian atasnya dilepas sambil berkipas-kipas dengan tangan. Bus masih melaju lambat sekali di tengah siang hari yang terik. "Dibilang enak ya enak, dibilang gak enak ya gini (kondisinya,Red)," kata Ishaq saat diminta komentar tentang perjalanan dengan bus tersebut.
O 325 sudah uzur. Hal tersebut diakui oleh para supir dan kru DAMRI. terlontar saat Jawa Pos ikut nimbrung bersama mereka di pos kecil tempat timer dan pengumuman pemberangkatan bus terminal Ujung, Tanjung Perak. "Itu Bus sudah tahun 80-an, lebih tua dari itu juga masih ada," kata Joko, salah satu supir.
Kawan joko yang sedang berada di depan mik, Sidik Rokhim menuturkan bahwa bus tersebut keluaran Jerman. Sangat klasik sampai-sampai para turis Jerman yang datang ke Surabaya menyempatkan untuk menaikinya atau berfoto di sampingnya. "Turis-turis itu malahan cari bus yang paling lawas," katanya.
Akan tetapi menurut Sidik, DAMRI di Surabaya adalah yang terhitung paling telaten merawat bus tua. Terbukti masih bisa beroperasi dengan normal. Di kota-kota lain, bus-bus lawas se angkatan si O 325 sudah berakhir di tangan para rombeng. "Bus tingkat bus kota rata-rata sudah dilelang," tuturnya.
Sepengetahuan Sidik, di garasi DAMRI Jagir, O 325 masih mendapatkan perawatan yang rutin. Onderdilnya juga masih tersedia.
Apakah semua O 325 sudah memakai kursi busa? menurut mereka belum. Masih ada beberapa bus yang masih memakai kursi plastik "atos" tersebut. Terutama yang melayani jalur Tanjung Perak-Bungurasih via tol. "Jek akeh (masih banyak,Red)," seloroh Saiful Abidin, salah seorang supir. Jawa Pos kemudian mengikutinya bergegas menuju seekor Mercedes O 325 nomor 27 jurusan Bungurasih yang sudah saat nya berangkat.
Si tua berdahi lebar ini perlahan melaju meninggalkan terminal Ujung dengan asap pekat dan lolongan knalpot mengikutinya dari belakang

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Maiden Voyage (Interlude)

A full-scale invasion

Well-trained corps of naval officers.