
Batam Aerospace, 3 April 2017
Weaving my wing from many college yards,
fly higher, higher, higher...
into the wind.
Norak sekali pemuda seusiaku, hidup di metropolis pada tahun 2017 menceritakan pengalaman pertama naik pesawat. Tapi maaf, aku memang baru kali ini naik burung besi.
And i feel very excited
Sayang sekali virus Elvi Sukaesih saat menaiki kereta api keburu menyerang. Antusiasme padam karena kantuk. Semalam persiapan ribet sekali. Belum lagi meladeni ledekan redaktur tentang orang Bondowoso pertama yang pesawat terbang ke luar negeri.
Di ketinggian 30 ribu kaki, tak kubiarkan kesadaranku sepenuhnya hilang. Tapi pikiranku terbang jauh. Ke masa lalu. Getaran di badan masih terasa sama seperti saat menaiki Bus dari Surabaya ke Bondowoso dengan lamunan panjang, kejenuhan yang memuakkan, punggung yang pegal, dan tidur yang tak sempurna.
Dari balik kelopak mata, aku masih bisa melihat lampu jalanan dan pohon bekejaran di balik jendela. Ada suara set-set-set khas spidol kondektur yang dioleskan ke karcis. Menghampiri penumpang satu persatu. Datang dari ujung lorong, mendekat, lalu menjauh lagi.
Bahkan sebelum take off tadi aku sempat mendengar suara Jlebs! Suara pintu ditutup tanda supir bus masuk ke ruang kemudinya. Astaga, suasana Terminal Bungurasih benar-benar menancap ke alam bawah sadarku. Tapi satu sel di otak masih menjaga data resmi posisiku. Ini Boeing 737-400, bukan bus patas. Dan kita sedang terbang ke antah berantah.
Aku terbangun oleh rasa geli di perut saat pesawat memasuki stall speed. Pilot mengumumkan bahwa pesawat sebentar lagi akan mendarat di Bandar Udara Changi, Singapura. Pukul 09.00 waktu indonesia. Pukul 10.00 waktu Singapura. Kutengok ke bawah, kepulauan Batam dengan hamparan hijau yang kulitnya tercabik-cabik reklamasi.
Flap di sayap kanan sudah setengah turun. Lalu perlahan menekuk penuh. Menimbulkan sirkuit awan tipis yang memanjang ke belakang. Tanganku bergerak sendiri menyentuh leher. Ingin melaporkan bahwa flap pesawat turun sempurna.
Tep tep
Oke maaf, lupa kalau ini Boeing 737-400. bukan Pesawat Pengebom B-29 Superfortress. Saya juga lupa bahwa masih berstatus sebagai penumpang penerbangan sipil. Bukan penembak samping. Lagipula di leher ternyata tidak ada wireless.
Pesawat lalu bergetar saat memasuki descent angle. Seperti vespa sedang menuruni jalanan rusak. Daratan di bawah semakin kentara. Aku mengembalikan kepala ke sandaran kursi. Melayangkan pandang ke atap yang bergetar.
Di saat-saat seperti ini dia muncul lagi. Anak kecil dalam diriku, yang terjebak di tubuh orang dewasa. Aku masih bocah SD yang masih diantar ke sekolah walaupun sudah kelas satu SD. Aku masih anak kecil yang berlindung di ketiak Ummi. Begitu pemalu sampai ke tukang cukur pun harus diantar. Begitu minder dan penakut untuk menantang kakak kelas yang semena-mena. Atau mengajak bicara anak manis yang duduk di sebelahku.
Hingga saat ini aku masih anak kecil yang tersesat. Jauh ke ujung lautan. Masih dipenuhi ketakutan akan dunia baru yang akan kukunjungi. Dimana aku akan berteduh, siapa yang akan kuajak bicara, dan apa yang harus kukerjakan. Dan kini aku menjalani profesi yang paling kutakuti dulu, wartawan.
Takut tak bisa memenuhi target. Takut tak bisa bertemu narasumber, takut tak bisa mempersembahkan hasil terbaik untuk koranku.
Penerbangan pertama ini tidak hanya membawaku dari Indonesia ke Singapura. Tapi dari satu fase kehidupan, ke fase yang lain. Yang lebih maju, rumit dan menantang. Anak kecil ini pun mesti mengusap air matanya, dan menegakkan lehernya. Berhenti khawatir dan mulai bepikir.
"Returning landing position,"
Daratan Singapura melompat dari bawah. Seperti hendak menangkap kami. Lalu landasan pacu Changi bergerak bagaikan tangannya. Dengan cepat mencengkram badan pesawat dari bawah.
"Brakkk!!!"
Flap mengembang, rem udara terangkat.
Dan gerbang menuju dunia baru resmi terbuka.
Komentar
Posting Komentar