 |
| Nasida Ria via www.musixmatch.com |
Semarang, 30 Januari 2018
SEJAK
dilempari kulit kacang oleh KH. Agus Ali Masyhuri, saya sekarang lebih
hati-hati kalau wawancara dengan seorang kiai. Bukan semata soal etika seorang
santri, tapi para kiai kadang bisa wisecrackingly
surprising.
Ini adalah KH. Buchori Masruri.
Ulama dari Semarang. Ditokohkan di kalangan masyrakat Kauman. Umurnya 70-an. Beliau
punya majelis taklim sendiri. kalau mengajar, konteksnya selalu kekinian. Kadang
tematik juga. Kadang bawa kitab, kadang cukup laptop. Sama dengan yang melempar
kulit kacang ke dahi saya. Rahimahumallah…
Saya duduk sangat dekat dengan
beliau. Telinga saya pasang sangat dekat. Suara beliau sudah cukup lemah. Aslinya
banyak sekali yang bisa digali dari beliau. Sayang terhalang faktor fisik. Selain
ulama, beliau adalah seorang penulis lagu yang handal. Tidak banyak sih lagu
yang sudah ditulis, cuma empat ratus.
Tapi kali ini tidak membahas
soal agama atau isi kitab-kitab. Tapi murni soal Nasida Ria. Sejarah, kiprah,
perkembangan bla bla bla. Lalu di tengah wawancara tiba-tiba terlintas niat
jelek di kepala ini untuk megetes pemahaman beliau.
“Kiai, bom nuklir itu sudah
diledakkan tahun 1945 loh,”
Yes! Sebentar lagi akan
terbukti. Tidak semuanya lagu-lagu beliau ampuh dan tokcer dalam meramal masa
depan. Lagu bom nuklir itu sebatas ikut-ikutan tren saja. mentang-mentang ada
peristiwa hiroshima dan nagasaki, lalu grup kasidah ini ingin juga ikut-ikutan
bikin lagu soal itu. Mereka tidak bahkan mungkin tidak tahu perbedaannya.
Kiai Buchori yang selalu
terlihat lemah, tiba-tiba menegang
“Bukan! itu namanya bom atom!
kecill itu dibandingkan bom nuklir!”
Ngetes has been failed!
Semua keraguan saya terhadap
kemampuan beliau mendadak lenyap. Selain jago melahap kitab, Kiai Buchori ternyata
juga penggemar majalah Mekatronika terbitan Bandung dan Elektron dari Himpunan Mahasiswa
Elektro ITB. Koran-koran beliau kunyah. Dunia dalam berita beliau tongkrongi
sampai larut.
Sepulangnya dari dalem beliau di
Sambiroto, Semarang, Saya jadi berpikir : Sebelum menciptakan lagu Bom Nuklir
untuk Nasida Ria, beliau pasti sudah paham betul, Bom Nuklir dibagi menjadi
dua. : Bom Atom, dan Bom Hidrogen atau Thermonuclear
Bomb.
Beliau mungkin juga paham benar
perbedaan Fusi Nuklir dan Fisi Nuklir. Little Boy dan Fat Man yang dijatuhkan
di hiroshima dan nagasaki adalah bom atom diledakkan berdasar prinsip Fisi
Nuklir. Energinya didapatkan dari membelah uranium dan plutonium. Sementara bom
hidrogen berprinsip Fusi Nuklir. Didapatkan dengan menggabungkan ledakan
plutonium untuk memicu fusi isotop hidrogen. Kekuatannya 50 kiloton TNT. Atau 1000
kali Fat Man dan Little Boy.
Mobil meluncur di bawah rintik
hujan kota Semarang.
Baru sadar sekarang. Lagu Nasida Ria Bom Nuklir ternyata bukan dibuat
berdasarkan Hiroshima dan Nagasaki, tapi di era perang dingin. Yang dikritik
oleh Buchori adalah perlombaan persenjataan nuklir dalam perang dingin.
Beliau menghargai betul
kengerian yang akan ditimbulkan dan prinsip mutually
assured destruction. Dalam satu hulu ledak standar ICBM Amerika Serikat
saja, minimal ada 10 sampai 11 ruang fusi yang bisa meledak dan dilepaskan
secara mandiri. Tidak terbayangkan kalo meledak bersamaan. Sungguh lagu yang
sangat visioner, such a masterpiece.
But wait a minute.
Tersadar akan sesuatu, saya mengambil hape dan mulai mencari di Google lirik
lagu Nasida Ria : Bom Nuklir
Langit gelap tertutup asap hitam
mendadak udara dingin membeku
sungguh ngeri akibat bom nuklir
hoo... hoo... hoo...
OH SH*T, He knows about the Nuclear Winter too!!
Komentar
Posting Komentar